Kabar dari mantan personel SO7

Waktu mendapati majalah langganan miliknya ortu dirumah, saya tertarik untuk membacanya, ada sesuatu hal yang menarik yang waktu itu juga dalam pikiran saya ingin membaginya dengan kawan-kawan, paling tidak membaginya buat Sheila Genk atau pecinta group band Sheila on Seven, karena dalam halaman profil tersebut isinya tentang mantan personel SO7 yang sudah tidak pernah keluar dilayar televisi, udah kangen kan ama mantan personel SO7 satu ini, baca dibawah ini ya, yang saya ambil dari majalah Suara Hidayatullah edisi 03/XXI/Juli 2008, semoga bermanfaat

Sejak memutuskan hengkang dari group band Sheila on seven, ada yang berubah dari penampilan Sakti Ari Seno, 28 tahun. Termasuk cara sakti dalam menjalani kehidupan. Bila dulu sakti dikenal suka menggunakan pakaian kasual saat menggelar konser, kini sehari-harinya menggunakan gamis dan kopiah. Jenggot yang dulu sekedar melengkapi penampilan, kini kian lebat.

“Seperti inilah semestinya seorang Muslim berpenampilan. Mengikuti sunnah nabi Muhammad SAW,” ungkap Sakti saat diwancarai Suara Hidayatullah.

Menurutnya, ia ingin menunjukkan kepada orang-orang, bahwa pakai gamis ini adalah tuntunan Rasulullah SAW. “kalau tak ada yang mencontohkannya, masyarakat hanya akan menganggap pakaian ini digunakan teroris,” katanya.

Bagaimana dengan shalatnya? Pria yang mengaku sejak kecil jarang shalat ini menyadari kesalahannya. Kini shalat lima waktu pun tak pernah ia tinggalkan, tentunya shalat berjamaah di masjid.

Sehari-hari, kegiatan pria yang baru saja dikaruniai anak pertama ini adalah belajar agama dan berdakwah. Gitar yang selalu bersamanya dalam berbagai penampilan ia tinggalkan. Ia ganti haluan kepada Allah SWT. Bersama kawan-kawannya di gerakan dakwah Jamaah Tabligh, Sakti berangkat khuruj, untuk belajar dakwah di Pakistan, India, dan Bangladesh pada tahun 2006.

Sepulang dari khuruj diluar negeri selama tiga bulan itu, permintaan ceramah dan mengisi kajian terus berdatangan. Tak hanya mahasiswa melalui unit kerohanian Islamnya, remaja masjid pun kerap mengundang Sakti. Dalam dakwahnya, tak jarang ia berbagi cerita tentang pengalaman rohaninya sehingga menjadi dekat dengan Islam, kepada banyak kalangan.

Titik Balik

Perubahan drastis yang dialami Sakti tidak lepas dari sebuah pengalaman hidup yang secara beruntun yang dialaminya pada tahun 2003. Saat itu Sakti bersama Eros, rekan groupnya, mewakili grup Sheila on Seven hendak berangkat ke Malaysia untuk menerima penghargaan atas albumnya yang dinilai terbaik. “Saat menunggu keberangkatan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, saya melihat sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah” yang dijajakan disana, dan saya tertarik membelinya,” ujar Sakti.

Kebiasaan membaca buku membawa suami Miftahul Jannah (23 tahun) ini semakin larut dengan bacaan barunya itu. Apalagi menurut Sakti, isi buku itu sangat menyentuh perasaannya. “Setelah membaca buku itu saya jadi takut mati. Apalagi waktu itu pesawat sering jatuh. Jangan-jangan pesawat yang saya tumpangi ini jatuh, dan saya mati,” ungkap Sakti yang menghabiskan sebagian halaman buku itu didalam pesawat.

Ketakutannya semakin bertambah ketika pulang dari Malaysia. Dia mendapati ibunya terserang penyakit paru-paru dan harus dirawat dirumah sakit. “Saat menunggui ibu, bibi saya datang menjenguk sambil membawakan majalah berjudul “Mati Suri”. Saat saya baca, rasa takut mati itu semakin bertambah,” kenang Sakti.

“saking takutnya, seharian saya tidak bisa tidur,” ujarnya.

Peristiwa ini diakui Sakti sebagai titik awal dalam hidupnya. Maka ketika ada teman yang mengajaknya mengikuti pengajian, pria yang banyak mengenyam pendidikan di sekolah Kristen ini tidak menyia-nyiakannya. Diikutinya pengajian itu hingga tuntas. “Habis mengikuti pengajian, hati saya kok rasanya semakin tenang. Ibarat seekor ikan yang dikembalikan lagi kedalam air,” jelas sakti.

Pengembaraannya mencari hidayah tak berhenti disitu. Untuk mendapatkan Islam yang benar-benar sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, berbagai kelompok pengajian ia ikuti. Namun akhirnya ia menentukan pilihan di Jamaah Tabligh (JT). “JT tidak mengiming-imingi kepartai, tapi justru hanya mengajak untuk memperbaiki diri,” jelas Sakti. Meskipun saat ini ada suara-suara miring tentang JT, menurutnya, bukan konsepnya yang salah, namun personnya.

Bagaimana dengan aktivitasnya di music? Sakti mengakui, sejak tersentuh oleh Islam pada tahun 2003, dirinya sudah tak lagi tertarik dengan music. Bahkan karena sibuk mencari ilmu agama, latihan dengan grupnya semakin berkurang. Imbasnya, ketika tampil dipanggung, Sakti sering salah-salah. “Sampai saya dinasehati teman-teman untuk bekerja dengan benar,”kenang Sakti

Keinginan untuk keluar pun semakin kuat. Namun niat itu tertahan oleh nasehat ustadznya yang menghendaki Sakti tetap di Sheila on Seven untuk mendakwahi teman-temannya agar dekat dengan agama. Sakti pun tetap bertahan digrup yang membesarkannya itu. “Di Sheila, tak ada lagi keinginan saya untuk go internasional, dengan target penjualan album berjuta-juta kopi. Niat saya saat itu hanya ingin mendakwahi teman-teman di Sheila agar tahu agama, semampu saya, “ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Sakti tak bosan mengajak teman-teman yang seluruhnya Muslim itu untuk shalat, meskipun diakuinya sebagai sesuatu hal yang sulit. Ia perbaiki permainan gitarnya untuk mengambil hati teman grupnya. Namun kehidupan teman-temannya tetap tak bisa diubah juga. Sakti pun menyadari bahwa hidayah mutlak wewenang Allah. “Tapi, Alhamdulillah mereka tetap menerima keadaan saya,”ujarnya.

Dakwah internal Sheila ini dijalaninya hingga 2006. Ditahun yang sama Sakti mengakhiri kariernya didunia music. Ia memilih keluar karena merasa semakin tidak klop dengan grupnya. Apalagi, album kelima yang dirilis 2006 itu banyak bertema cinta yang sudah tidak cocok dengan hatinya . “karena hubungan kerja sudah tidak bagus lagi, maka saya memilih mundur untuk menjaga hubungan pertemanan,”jelas Sakti.

Meski demikian silaturrahim dengan personel Sheila masih tetap berjalan dengan baik. Bahkan menurut Sakti, mereka masih sering saling mengunjungi. Hingga kini, pria yang menikah pada tahun 2007 ini masih tetap berfikir keras bagaimana caranya mengajak mereka untuk memahami Islam. “Minimal satu orang saja,” ungkapnya bersemangat.

Pilih Berbisnis

Sejak hijrah dari music, Sakti memilih mendirikan minimarket dan laundry dikediamannya di Pandega Marta, Yogyakarta. Ia juga mendirikan industry kecil yang memproduksi sandal terompah. Contohnya ia datangkan langsung dari Malaysia.

Dengan kegiatan ini membuatnya leluasa membagi waktu untuk bisnis dan dakwah. Sakti tidak ingin lagi menekuni profesi sebagai pemain band yang hanya akan menjadikan orang lupa kepada Allah. Mantan mahasiswa STIE YKPN ini menyakini orang yang meninggal itu sesuai dengan amal istiqomahnya. “Pembalap biasanya meninggal dilapangan balap, begitupun dengan profesi lainnya. Saya tidak mau dimatikan Allah dalam kondisi jingkrak-jingkrak dipanggung,” ujar lulusan SMA De Britto, Yogyakarta ini.

Sakti yang selama ini banyak berinteraksi dengan anak muda memiliki penilaian sendiri tentang kondisi anak muda masa kini. Menurutnya, anak muda sekarang hanya kurang bimbingan, sehingga mereka terjerumus di diskotik, bar atau tempat maksiat lainnya. “Karena realitanya mereka tidak tahu ilmu dan iman, sehingga harus didekati dengan akhlak,” jelas Sakti. Karena itulah Bendahara Masjid Nurul Iman ini mengajak untuk mendatangi sekaligus mengajak mendakwahi mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s