AKU BERFIKIR UNTUK MEMBAKAR IJAZAHKU

Diera sekarang ini, nggak punya gelar kayaknya nggak keren, begitulah opini yang melanda masyarakat kita, siapa yang kuliah dan punya gelar tinggi, dimata masyarakat, kehormatan serta wibawanya akan mendapat pengakuan. Karena itu banyak banget masyarakat yang cari gelar, sebenarnya itu semua sah-sah aja sih, tapi harus seimbang antara cari ilmu dunia dan akhirat, serta luruskan niat kita dalam mencari ilmu, bukan cari gelar kehormatan biar dipandang masyarakat atau hanya agar dapat kerja biar dapat duit yang melimpah, dan melalaikan semuanya, bahkan melupakan fitrahnya sebagai seorang manusia atau seorang hamba yang tugasnya beribadah.

Dibawah ini sedikit saya tuliskan sebuah pelajaran kisah yang dialami saudara kita yang saya ambil dari sebuah buku. Pelajaran ini tentang sebuah kejadian yang bangga mencari sebuah gelar dan prestasi serta melupakan fitrahnya sebagai manusia yang memerlukan pendamping hidup.

Fenomena perawan tua kini menjadi momok menakutkan yang mengancam banyak kawula muda, terutama mereka yang bekerja dan lulusan perguruan tinggi, yang sebelumnya menolak menikah pada waktunya dengan alasan studi dan karir. Hasilnya tragis, karena mereka harus menjalani hidup bertahun-tahun tanpa pernikahan. Kisah berikut merupakan pengakuan yang tulus dari salah seorang dari mereka. Ia mengatakan:

“Semasa belia, aku selalu memimpikan gelar tertinggi dalam dunia pendidikan. Aku tak memungkirinya bahwa aku juga memimpikan hidup sebagai seorang ibu dan seorang isteri dimasa yang akan datang. Akan tetapi, pada waktu itu dunia pendidikan merupakan prioritas diatas segala-galanya, hingga membuatku menolak keinginan untuk segera menikah.

Keadaannya tetap seperti itu, hingga aku sukses menggondol gelar magister dari sebuah perguruan tinggi, dan dengan gelar itu berakhirlah jerih payah perjalanan studiku. Kini, muncul masalah baru, aku mulai dilanda kesepian. Aku sadar bahwa aku sangat berkeinginan untuk berumah tangga.

Pintu lamaran telah dibuka oleh ayahku. Namun, setiap pemuda memberanikan diri untuk maju, ia pun segera mundur teratur karena melihat persyaratan dan kriteria-kriteria yang ditetapkan olehku dan ayahku. Sesungguhnya ayahku sangat menyanyangiku, demi menghormati suatu hak, beliau tidak memaksakan sesuatu yang tidak aku maui.

Enam tahun telah berlalu sejak kelulusanku dari perguruan tinggi. Kini, aku telah melewati ambang usia tiga puluhan. Disinilah terjadi suatu kejutan ketika pelamar terakhir datang dan kebetulan ia memenuhi semua kriteria sebagi calon suamiku. Akan tetapi, ia juga berhak untuk menetapkan bebarapa kriteria untuk dirinya. Maka tak heran bila ia langsung mengemasi koper-kopernya dan segera undur diri setelah mengetahui usiaku yang sebenarnya. Bahkan, dengan terus terang ia mengatakan,”Aku tidak menginginkan seorang perempuan yang usianya sekarang dengan usia menopausenya hanya tersisa sedikit saja”.

Tampaknya, aku memang harus mengalami kenyataan yang sangat pahit. Aku semakin yakin bahwa diriku telah memasuki periode perawan tua yang akhir-akhir ini kerap menjadi menu perbincangan diberbagai media massa.

Dulu aku yang menetapkan sejumlah syarat dan kriteria semasa usia keemasanku. Pada waktu itu aku jual mahal, karena memang posisiku pantas untuk itu. Kini, justru mereka yang menetapkan sejumlah kriteria kepadaku. Itulah yang sering kali membuatku berfikir untuk membakar seluruh ijazah yang telah menyebabkan aku dilupakan oleh semua perasaan, hingga aku benar-benar telah ketinggalan kereta.

Aku mulai menyesali sikap ayahku yang telah cukup besar mencurahkan kasih sayangnya, tetapi tidak pernah mau mengambil pelajaran dari beragam pengalamannya selama mengarungi kehidupan dalam menetukan batas perjalanan hidupku selama ini. Memang, pendidikan telah membekaliku wawasan dan pengetahuanku bertambah, ikut bertambah pula keinginanku untuk menjadi seorang ibu dan seorang isteri. Karena walau bagaimanapun aku adalah manusia, dan manusia diciptakan sesuai fitrahnya.

Aku mengisahkan ini kepada kalian untuk pelajaran dan nasihat semata. Aku mengatakan ini demi kehidupan, demi perkawinan, bukan untuk perawan tua. Kepada rekan-rekan yang masih berada pada usia keemasannya, aku sarankan jangan sampai mengalami nasib yang sama denganku, yang terpaksa harus menarik kembali sejumlah persyaratan dan kriteria yang aku tetapkan”.

Ambillah Ijazahku Dan

Beri Aku Suami

Ini adalah pengakuan seorang dokter perempuan warga Arab Saudi, yang telah memasuki usia kepala tiga, tetapi belum berumah tangga. Ia sering kali berkata,”Ambillah ijazahku dan beri aku suami!” ia menyampaikan jeritan batinnya melalui rubrik dalam majalah al-Yamamah as-Su’udiyah. Ia mengatakan:

“Pukul tujuh pagi adalah waktu yang sangat menyesakkanku dan selalu membuat air mataku menetes. Aku naik kendaraan dan duduk dibelakang sopir pribadiku untuk pergi ketempat praktik, atau boleh dikatakan kekuburanku, bahkan bisa jadi penjaraku. Sesampainya di tempat kerja, aku jumpai para perempuan dengan anak-anak mereka yang menantiku. Mereka memandangi mantel putihku, seakan-akan busana sutera dari Persia. Itu menurut pandangan orang lain, padahal dalam pandanganku sendiri pakaian itu tak lebih dari pakaian berkabung untukku!

Aku memasuki ruang praktik, lalu mengalungkan stetoskop. Sepertinya alat ini adalah seutas tali yang mencekik leherku. Kini, usia kepala tiga makin mengencangkan lilitannya dileherku, dan perasaan pesimis telah menghantui masa depanku”.

Batinnya semakin menjerit pilu,” Ambillah ijazahku, matelku, piagam penghargaanku, dan kebahagiaan semuku, lalu perdengarkanlah kepadaku panggilan ‘DUHAI MAMA!'”.

Kemudian ia bersenandung:

Dulu, memang aku ingin orang-orang memanggilku dokter, dan itu telah dikatakan, tetapi apa gunanya bagiku. Katakanlah kepada kawula muda yang melihatku sebagai idolanya, bahwa hari ini sang idola itu sedang meratapi nasibnya ditengah masyarakatnya.

Seluruh angannya adalah bocah-bocah yang memeluknya. Mungkinkah ia bisa membelinya dengan kekayaannya?!.

Semoga kita dapat memetik hikmah dari pelajaran atau kisah tersebut, dan kita berdoa agar apa yang kita lakukan sekarang (dalam mencari ilmu) semua kita lakukan karena beribadah kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s